8 Agustus 2011

Mengungkap Kepahlawanan PB VI

Mengungkap Sejarah Pahlawan Pakubuwono VI

Ir Yogihardjo

A. PENDAHULUAN

Susuhunan Pakubuwono VI dikalangan kraton dikenal sebagai Pangeran Bangun Tapa. Nama ini diberikan karena beliau memiliki kebiasaan bertapa, sebagai bagian dari kehidupan beliau sepanjang masa yang dihabiskan untuk perjuangan.

PB VI diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional RI berdasarkan Keppres No. 294 tanggal 17 Nopember 1964. Sejauh mana perjuangan beliau sehingga pantas diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan? Sedangkan Sultan Agung yang perjuangannya melawan Kompeni lebih dikenal dalam sejarah, baru diangkat sebagai pahlawan pada tanggal 3 Nop 1975. Ada sebagian kalangan bahkan pengamat sejarah yang meragukan pengangkatan PB VI sebagai Pahlawan. Jawabnya adalah maklum, mengingat sejarah beliau tidak banyak diketahui, baik oleh masyarakat umum maupun didalam penulisan sejarah. Sedang sejarah yang ada lebih banyak ditulis oleh Belanda sendiri dengan menutupi peran PB VI. Mengapa Bung Karno, seorang pemimpin yang cerdas dan berwawasan spiritual, tidak ragu ragu menetapkan PB VI sebagai Pahlawan Nasional, bahkan pengangkatannya mendahului para Pejuang lain yang lebih dikenal? Akan terjawab dalam ungkapan ini.

Pengungkapan sejarah ini diperoleh dari dokumen dan berbagai sumber dari Kraton Surakarta yang tidak disebar luaskan. Penulis mengungkap sejarah perjuangan PB VI berkenaan dengan tugas yang diberikan oleh Ketua Paguyuban Darah Dalem Pahlawan Nasional PB VI pada tahun 1997 di Solo. Ringkasan dari sejarah ini dibacakan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nop 1997 di Istana Makam Raja Raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta.

B. JIWA PEJUANG

Lahir dengan nama BRM Sapardan, pada hari Minggu Wage, 26 April 1807 Jam 2 pagi. Beliau adalah Putra Susuhunan Pakubuwono V dan Cucu Susuhunan Pakubuwono IV. Sejak kanak kanak dekat dengan Eyang Dalem, bahkan menjadi kekudangan (harapan) agar kelak kemudian menjadi raja yang mampu mengusir penjajah dan mengembalikan kejayaan seperti dizamannya Leluhur Dalem Sultan Agung dan Hayam Wuruk. Kekudangan mana oleh Ayahanda PB V diwujudkan dalam Tembang Dandanggula :

Putraningsun pindha Dewa Aji

Hayu kadya suryaning wanodya

Deg pidegsa sarirane

Nora prakosa bakuh

Kukuh jinongko hing Ywang Widhi

Wanter santoseng karsa

Suthik yen winengku

Kuwasane liya bangsa

Budidaya mardikane bu Pretiwi

Tekeng tembe wurinya

Tembang ini melukiskan sosok beliau yang luhur dan wajah yang bersinar lembut dengan perawakan yang tidak berlebihan. Ditegaskan bahwa sudah menjadi Kehendak Tuhan, beliau ini memiliki pendirian yang kuat tidak sudi dikuasai dan diatur oleh Asing, berusaha memerdekakan tanah air hingga akhir hayat.

Nata Luhur Gung Hamrabawani

Bawana Pinaku Bangun tapa

Pandhita Ratu harane

Rukun sawiji tuhu

Tetaline kawula Gusti

Ginugah hing Ywang Suksma

Humangsah prang kalbu

Buntu tatap titimasa

Mapan pinastheng weca jumeneng dadi

Tetunggulipun Bangsa

Sebagai raja agung berwibawa yang berjiwa pandita pertapa, atas dasar kebaktian kepada Tuhan, beliau mengupayakan kerukunan bawahan dan atasan untuk menghadapi perang lahir dan batin. Meskipun belum saatnya dapat memerdekakan bangsa, namun yang pasti menjadi pahlawan perintis kemerdekaan.

Sedemikian dekatnya dengan Eyang Dalem sehingga ditahun 1817 ketika masih berumur 10 thn, beliau diajak menyaksikan dimana Pakubuwono IV berperang melawan Kolonial Inggris. Jadi sejak kecil didalam jiwa beliau sudah tertanam perjuangan melawan penjajah. Beliau naik tahta pada usia 16 tahun yaitu pada Hari Senen Kliwon, 15 September 1823. Setelah menjadi raja, sudah pasti apabila beliau mewujudkan dalam tindakan nyata untuk melanjutkan perjuangan Eyang Dalem mengusir penjajah. Namun ada yang tidak puas dengan pengangkatan ini yaitu Pangeran Purbaya, adik dari Pakubuwono V, yang merasa dirinya lebih pantas menggantikan kakaknya dengan alasan keponakannya masih terlalu muda. Inilah dalam kisah nanti yang menjadi penghambat dalam perjuangan.

C. PENGATUR STRATEGI DIBELAKANG LAYAR.

Ketika itu sebagai seorang raja, yang dikenal sebagai pemuda yang memiliki semangat tinggi, beliau merasa gerak geriknya sangat diawasi oleh Belanda, sehingga tidak bebas secara terang-terangan mengadakan perlawanan. Apalagi masih terikat perjanjian dengan Belanda yang dikenakan terhadap Raja Raja sebelumnya pada tahun 1677 (bersamaan dengan pengangkatan Amangkurat II), 1702 (pengangkatan Amangkurat III) dan 1749 (pengangkatan PB III). Dimana setiap pengangkatan, raja dikenakan kewajiban memberi bantuan sejumlah prajurit untuk keamanan dan pertahanan. Perjanjian mana berlaku juga terhadap Susuhunan PB VI.

Oleh karena keterbatasan gerak gerik, beliau mengadakan kerjasama dengan Pangeran Diponegoro yang kebetulan memiliki cita-cita yang sama untuk mengusir penjajah.

Kedua Patriot ini, berpuluh kali mengadakan pertemuan rahasia di Krendhawahana dekat kaliyoso, Guwaraja lereng Merapi Merbabu, Mancingan pesisir laut selatan, Padhepokan Jatirogo daerah Tanjung Anom, dll tempat rahasia dalam rangka mempersiapkan peperangan melawan penjajah. Ditempat tempat rahasia inilah beliau menyempatkan bertapa (samadhi), menapak tilas kebiasaan para raja leluhur, yaitu Sanjaya, Syailendra, Smaratunggadewa, Rakai Pikatan, Erlangga, Jayabaya, Kertanegara, Wijaya, Hayam Wuruk dan Brawijaya.

Inti hasil pertemuan adalah :

1. Pertempuran akan dikobarkan serentak keseluruh pelosok tanah Jawa.

2. Pangeran Diponegoro menghimpun kekuatan dari para petani, santri dan segenap lapisan rakyat.

3. Susuhunan Pakubuwono VI mengerahkan bantuan berupa dana, logistik, senjata, prajurit dan segala kebutuhan peperangan, baik secara langsung maupun melalui perintah kepada para Bupati didaerah.

4. Agar peran Susuhunan Pakubuwono VI tidak diketahui oleh Belanda, perang akan dipimpin dan dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro. Kyai Maja selain penasehat merangkap sebagai penghubung antara PB VI dengan P. Diponegoro.

5. Susuhunan Pakubuwono VI tetap berada dibelakang layar, sampai pada saatnya tampil kedepan apabila konsolidasi seluruh rakyat di P. Jawa telah terbentuk cukup kuat dan ketika Belanda mulai melemah.

D. PERANG DIKOBARKAN.

Perang berkobar dengan dahsyat mulai tahun 1825 meliputi seluruh Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sedemikian dahsyatnya, bangsa bangsa di Eropa waktu itu menyebut dengan Perang Jawa. Sedangkan peristiwa diterjangnya makam keluarga Pangeran Diponegoro oleh pembangunan jalan untuk kepentingan Belanda, sebagaimana ditulis didalam sejarah versi Belanda, sebenarnya hanyalah momentum untuk mengawali peperangan. Jadi peperangan sudah dipersiapkan jauh sebelumnya secara matang oleh Susuhunan bersama Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu gebrakan ini betul betul Belanda menjadi kewalahan dan kalang kabut.

Dapat dipahami bahwa tidak mungkin perang dapat berkobar demikian dahsyat tanpa dukungan material, personal dan spiritual dari Pakubuwono VI. Dukungan material dapat dikatakan tak terbatas mengingat Kasunanan adalah penerus dan pewaris dari kerajaan kerajaan sebelumnya mulai dari Mataram Kuno, Kahuripan, Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram hingga Surakarta Hadiningrat. Tidak hanya makanan, perbekalan dan anggaran, juga termasuk pusaka yang diantaranya adalah :

· Keris Kyai Sandhanglawe dan panah Kyai Sirwinda kepada Pamanda Pangeran Diponegoro. Dalam menggunakan panah supaya disertai sasanti : “Sirwinda, nuncepa gundhule Walanda kang hambeg kumawasa”! Dengan menggunakan keris inilah P. Diponegoro berhasil membunuh banyak serdadu Belanda dipalagan dekat Ringin Growong (Kulon Progo), sehingga tempat ini dianggap keramat oleh musuh dengan sebutan “jalma mara jalma mati”.

· Pelana kuda Kyai Sabuk Angin lengkap dengan cemethinya kepada Raden Ajeng Sumirah. Pusaka ini dapat memacu kuda dengan kecepatan luar biasa sambil menerjang musuh dan memusnahkannya dengan cemethi. Termasuk kapten Van der Bos menjadi korban ketika berhadapan dengan R.A Sumirah (Nyai Kedung Gubah).

· Keris Kyai Umbul Ludiro kepada Tumenggung Prawirodigdoyo, yang mampu menjadikan banjir darah (umbul ludiro) dikalangan pasukan Belanda.

· Dll pusaka yang diberikan PB VI kepada Senthot Ali Basah Prawirodirdjo, Imam Rozi (Kyai Singomanjat), RA Kusriyah (Nyai Ageng Serang) dan masih banyak lagi.

Dukungan SDM (Sumber Daya Manusia) yang memperkokoh pasukan, tidak ternilai harganya, diantaranya adalah:

· Para Pinisepuh Pengageng kraton nan sakti mandraguna, seperti Kanjeng Gusti Pangeran Mangkubumi dan Kanjeng Gusti Pangeran Kusumoyudo.

· Para Kyai selain Kyai Mojo dan Kyai Singomanjat, yang berperan sebagai Manggala Setya, seperti Kyai Singoprono, Kyai Singolodra, Kyai Singomangkoro, Kyai Singomanggolo, Kyai Singodipo dan Kyai Singoyudo. Barisan Kyai yang memperoleh sebutan Singo tsb diatas, menggambarkan singa hutan yang tidak takut siapapun dan siap bertarung sampai ajal, artinya musuh harus menemui ajal, kalau tidak dirinya siap menerima ajal.

· Pasukan Manggala Putri yang pantang mundur, selain RA Sumirah dan RA Kusriyah yang telah disebut diatas, mereka adalah RA Akhadiyah, RA Marwiyah, RA Marfungah dan RA Murtinah. Fakta membuktikan bahwa sesungguhnya barisan Raden Ajeng inilah yang menginspirasi RA Kartini dalam perjuangan melawan Belanda melalui tulisan. Justru inilah yang membuat Kartini bersedih mengapa tidak sempat berjuang fisik seperti Eyang Eyang Putrinya tersebut diatas.

Jelas bahwa tidak mungkin sedemikian besar dukungan SDM disegala lapisan rakyat hingga ditingkat Elite, apabila tidak atas prakarsa PB VI sebagai penguasa waktu itu. Dari barisan ini saja sudah tidak meragukan lagi kesungguhan PB VI dalam upaya mengusir penjajah sampai rela mengerahkan kerabat putri putri cantik menyabung nyawa dimedan laga!

Dukungan spiritual tidak dapat diabaikan karena beliau sering bertapa memohon kepada Tuhan untuk keberhasilan perjuangan, sesuai dengan sebutan beliau yaitu Pangeran Bangun Tapa.

Belanda telah menghabiskan lebih dari 20 juta gulden dan 15.000 tentaranya tewas, yang membuat pemerintahannya didaratan Eropa mengalami kegoncangan. Sehingga Belgia dan Luxemburg sebagai negara bagian, mengambil kesempatan mengadakan pergolakan, hingga pada akhirnya pada tahun 1830 memisahkan diri dari Belanda hingga sekarang. Untuk memberikan gambaran berapa banyak 20 juta gulden itu, dapat dibandingkan dengan biaya sebesar 50.000 gulden untuk memugar candi Borobudur waktu itu. Jadi 20 juta gulden setara dengan biaya untuk memugar 400 candi Borobudur! Dari jumlah tentara Belanda yang tewas, 15.000 jiwa adalah angka yang berlipat kali lebih besar dari keberhasilan para pejuang yang lain dalam menewaskan tentara musuh. Perlawanan Sultan Agung sekalipun, tidak sampai menewaskan sepuluh ribu tentara Belanda.

Ketika itu kemenangan mutlak sudah diambang pintu. Belanda sudah bangkrut, sedang perbekalan dan tambahan kekuatan dari Susuhunan Pakubuwono VI untuk pasukan Pangeran Diponegoro mengalir terus, tersebar keseluruh medan laga di daerah Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Banyumas, Pati hingga ke Jawa Timur. Niscaya apabila tidak ada pengkhianatan, beberapa tahun kemudian Belanda sudah terusir dari bumi Pertiwi.

E. PENGKHIANATAN.

Namun tibalah saatnya kelicikan Belanda berulang kembali, seperti didalam perang ini. Diawali dengan persekongkolan Belanda dengan Pangeran Purboyo (Adik PB V) yang memang ingin menjadi raja. Dia ini yang membocorkan strategi dan rahasia perjuangan serta menghambat segala bantuan dari kraton untuk pasukan dimedan laga. Sejak itu perlawanan mulai melemah karena dengan cepat Belanda dapat mengetahui rahasia dan posisi kekuatan perjuangan, untuk satu persatu ditaklukkan dan dipecah belah. Pada gilirannya, lagi lagi berdasarkan informasi dari Pangeran Purboyo, malam hari tanggal 5 Juni tahun 1830 terjadi penangkapan terhadap Pakubuwono VI di Mancingan (pantai selatan Yogjakarta) sepulang dari upaya untuk membangkitkan kembali perlawanan pasca tertangkapnya Pangeran Diponegoro tanggal 28 Maret 1830. Beliau dengan masih berpakaian penyamaran sebagai orang biasa langsung dibawa ke Semarang dan selanjutnya diasingkan ke Pulau Ambon.

Sebagai hadiah dari Belanda, Pangeran Purboyo dinobatkan menjadi Paku Buwono VII.

F. BERJUANG TERUS DIPENGASINGAN.

Yang mengagumkan ternyata perjuangan PB VI tidak terhenti di tempat pengasingan sebagaimana raja raja yang telah dibuang. Beliau masih terus mengobarkan perlawanan dengan berjuang ditempat yang baru bersama-sama dengan para pemimpin pergerakan di Maluku, antara lain dengan Sultan Ternate dan keturunan Sultan Palembang, Mahmud Badarudin, yang dibuang di Ternate serta dibantu masyarakat Cina yang dikoordinir nona Kowi (anak Kwe Ko Hing).

Ternyata tempat pengasingan Pangeran Diponegoro di Manado masih terlalu dekat dengan Ambon, terbukti dengan masih berlanjutnya komunikasi perjuangan diantara keduanya. Pada akhirnya Pangeran Diponegoro dijauhkan lagi dari Ambon dengan ditempatkan di Ujung Pandang.

Perlawanan yang tiada hentinya dari Pakubuwono VI membuat Belanda kehilangan akal, sehingga pada hari Minggu Pon tgl 3 Juni thn 1849 Susuhunan ditangkap kembali oleh Belanda. Selanjutnya esok harinya jam 5.00 pagi, dieksekusi oleh regu tembak dengan senjata Baker Rifle yang diantaranya mengenai kepala tepat diatas mata kanan. Ini adalah pelanggaran Undang Undang Internasional yang disusun di Geneva yang berlaku terhadap Negara Penjajah yang isinya tidak boleh membunuh Raja di wilayah Jajahan. Mengapa Belanda nekat dan berani membunuh seorang Raja, sebagai bukti betapa heroiknya Susuhunan tetap mengadakan perlawanan meskipun sudah ditempat pembuangan. Tidak seperti raja raja lain (yang juga diangkat sebagai pahlawan) ditempat pembuangan tinggal duduk manis disediakan segala kesenangannya oleh Belanda asal tidak lagi melakukan perlawanan. Sebenarnya diawal masa pembuangan Susuhunan dicukupi juga segala kesenangannya oleh Belanda, tetapi sama sekali tidak terpengaruh. Kalau hanya untuk kesenangan duniawi dan apabila beliau berkenan, sudah dari dulu diawal menjadi raja apapun bisa didapatkan, tidak perlu mengadakan perlawanan terhadap penjajah.

Dikisahkan waktu itu diawal pengasingan, Susuhunan merasakan keprihatinan yang amat mendalam akibat kegagalan perjuangan. Sebagai Seorang Pertapa Agung, kesedihannya menimbulkan iklim buruk bagi serdadu Belanda sehingga yang sakit pagi sore mati, yang sakit sore pagi mati. Penguasa Belanda menjadi kalang kabut berupaya agar Susuhunan tidak berlanjut dalam kesedihan, mencari informasi ke Keraton Surakarta apa yang paling disukainya. Maka diserahkanlah kesukaannya yaitu kuda balap hitam besar dan sangat tampan yang didatangkan dari Eropa. Tetapi balik kuda inilah yang dipakai Susuhunan untuk melanjutkan perjuangan.

Sebagai layaknya raja raja besar yang gemar bertapa dan memiliki kawaskitan, maka sebelum dieksekusi beliau sempat berwasiat mengingatkan Belanda : "Hai penjajah, tunggulah 100 tahun lagi, tiga generasi dari keturunanku akan mengusir kalian dari Bumi Pertiwi ini".

Terbuktilah wasiat ini dengan tersingkirnya secara de facto seluruh aparat Belanda pada tahun 1949, melalui perjuangan bangsa Indonesia dibawah pimpinan Ir.Soekarno.

G. SEKILAS ANALISA

Sungguh luar biasa keluhuran jiwa Susuhunan PB VI sebagai patriot bangsa yang dengan ikhlas mengorbankan jiwa raganya. Beliau berjuang betul betul tanpa pamrih; tidak juga meskipun hanya untuk mendapatkan nama baik. Terbukti dengan posisinya yang secara diam diam berada dibelakang layar, sehingga tidak perlu diketahui oleh siapapun.

Pada zaman itu, para raja dan para petinggi Kraton banyak yang mencari selamat dan mengikut arus saja. Terbukti dengan Kesultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman, membantu Belanda dengan mengerahkan laskar memerangi para Pejuang.

Sesungguhnyalah yang disebut dengan pasukan Pangeran Diponegoro, sebenarnya adalah prajurit Kasunanan juga yang tersebar dipulau Jawa, yang diperintah oleh rajanya melalui para Bupati, untuk membantu Pangeran Diponegoro. Inilah yang membuat Belanda keheran heranan, mengapa pasukan Pangeran Diponegoro demikian banyak, kuat dan tidak ada habis habisnya. Sedang pasukan Belanda sudah habis habisan, termasuk kehabisan akal sehat, hingga akhirnya bersekongkol dengan Pangeran Purbaya. Alasan ini jugalah kenapa pihak kraton tidak mengungkap sejarah yang sebenarnya terjadi, karena pengkhianatan itu dilakukan oleh kerabat kraton itu sendiri yang kemudian mendapat hadiah dari Belanda menjadi Pakubuwono VII. Sesungguhnya para pembesar kraton sama sekali tidak menyukai pengkhianatan ini, terbukti dengan setelah meninggalnya PB VII tidak digantikan oleh keturunannya, tetapi oleh adiknya sebagai PB VIII, sambil menunggu putra PB VI, BRM Duksino, yang oleh para Sesepuh Kerabat kraton disepakati menjadi PB IX. Dari sini tiba saatnya untuk mengungkap hubungannya dengan Bung Karno.

Pengganti PB IX adalah putra mahkota yang bernama BRM Kusno (lahir tgl 29 Nop 1866), yang kemudian menjadi PB X (th 1893 s/d 1939) dengan sebutan Pangeran Hingkang Wicaksana. Sebagai cucunda PB VI, faham akan perjuangan Eyang Dalem yang dengan gigih melawan penjajah, yang harus dilanjutkan oleh 3 generasi sesudah PB VI, yang berarti putra PB X lah yang akan mengusir Belanda di tahun 1949, yaitu 100 th kemudian setelah PB VI dieksekusi di th 1849. Sebagai Raja yang bijaksana dan uninga sakdurunge winarah (mengetahui sebelum terjadi), pada th 1900 beliau mengambil garwa ampil seorang putri raja Buleleng yang bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Ketika mulai mengandung Sang Isteri diungsikan ke Surabaya dengan didampingi seorang abdi dalem kinasih yang bernama R. Sukemi, yang selanjutnya menggantikan sebagai suami Sang Putri. PB X mengetahui bahwa putranya yang akan lahir inilah yang dimaksud oleh Eyang Dalem PB VI yang akan memerdekakan bangsa ditahun 1949. Tetapi perjuangannya tidak lagi didalam keraton, karena disamping kehidupan kraton sangat diawasi Belanda, juga karena perlawanan terhadap Belanda sejak era pasca PB VI sudah berada diluar keraton. Betul, ditahun 1901 lahirlah Sang Fajar yang diberi nama Kusno, yaitu nama beliau sendiri ketika masih muda. Kusno inilah setelah dewasa bernama Sukarno yang berhasil memimpin bangsa ini mengusir Belanda secara de facto ditahun 1949, yang kemudian menjadi presiden RI yang pertama.

Meskipun Susuhunan Pakubuwono VI bersama Pangeran Diponegoro belum berhasil mengusir penjajah, namun pengaruh Perang Jawa telah berhasil menginspirasi dan membangkitkan semangat perjuangan masyarakat luas di luar kraton pada generasi berikutnya. Dapat dikatakan sebagai peralihan dari perjuangan yang bersumber pada Kraton (Raja) ke perjuangan yang bersumber pada Tanah Air (Rakyat). Diawali dengan tumbuhnya pergerakan pergerakan sosial, seperti gerakan melawan pemerasan, gerakan ratu adil, gerakan samin dan gerakan keagamaan, hingga pergerakan pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Indische Partij dan Gerakan Pemuda. Semuanya merupakan bibit perjuangan yang dilahirkan oleh kepeloporan Pakubuwono VI dan Pangeran Diponegoro, hingga berhasil mengusir penjajah Belanda secara keseluruhan tepat pada tahun 1949.

H. PELAJARAN BAGI PEMIMPIN.

Marilah kita memetik pelajaran dari kebesaran jiwa PB VI dibandingkan dengan kepemimpinan nasional dijaman yang tinggal mengenyam nikmatnya kemerdekaan ini.

Dalam situasi negara RI yang sedang dilanda segala macam kebohongan, kebodohan dan bencana ini, apakah para pemimpin kita sudah berperan sebagai pejuang bangsa ataukah hanya membohongi agar diri sendiri dan keluarganya tetap selamat dan berkemewahan?

Bandingkan dengan PB VI selaku pejuang bangsa, beliau bahkan meninggalkan kehidupan yang serba mewah untuk bersusah payah memperjuangkan kesejahteraan rakyat dari belenggu penjajahan. PB VI merasakan bagaimana mungkin mewujudkan kerajaan yang besar seperti dijaman Mataram Kuno dan Majapahit, sementara Belanda mengeduk terus kekayaan sumber daya alam bumi Pertiwi ini, maka harus disingkirkan.

Dijaman sekarang ini penghambat kejayaan bangsa, yang juga harus disingkirkan adalah sifat kepemimpinan nasional yang tidak memperjuangkan kemandirian dan kebesaran bangsa, yang pada gilirannya hanya mencari persenan atau komisi dengan mengikuti saja kemauan Negara maju seperti Amerika Serikat dan Cina, yang nota bene menyodorkan diri untuk dijajah meskipun secara halus dan tersamar. Akibat dari kepemimpinan yang diliputi kebodohan ini, menimbulkan penderitaan pada rakyat kecil, karena selalu dikalahkan dan tertindas. Disisi lain martabat bangsa merosot jauh, karena rakyat kecil yang tidak berdaya itu rela jadi budak di negara negara Arab, padahal bangsa Arab adalah kelompok bangsa yang peradabannya jauh dibawah bangsa Indonesia dimasa lalu.

Pada dasarnya setiap pemimpin bangsa ini apabila mau mendengarkan suara hati nuraninya, akan faham betul bagaimana seharusnya menjalankan pemerintahan ini secara benar, jujur dan adil. Masalahnya karena masih terlalu besar pamrihnya terhadap tahta dan harta, yang menyebabkan tertutupnya hati nurani tersebut. Dia berarti bukan pejuang bangsa, karena salah satu ciri yang menonjol sebagai pejuang sejati adalah tanpa pamrih; sebagai yang telah dicontohkan oleh Susuhunan Paku Buwono VI.

24 April 2011

Jatidiri Bangsa


KEMBALI  PADA  JATIDIRI  BANGSA
                          Yogihardjo


A.   POKOK BAHASAN

Perpustakaan Negara di Washington mendokumentasi buku yang ditulis oleh 10 Doktor terkemuka didunia, menyimpulkan : Indonesia akan menjadi Negara Adidaya apabila kembali pada Kepribadiannya ( Jatidirinya).
Kepribadian mencakup Kebudayaan, Adat istiadat, Kemandirian, Spiritualisme, dll nilai  luhur & kearifan lokal dalam praktek kehidupan sehari hari.
Pernyataan didalam buku dokumen tsb sangat benar berdasar kenyataan dibawah ini.
1.      Fakta bahwa Negara maju, selalu tampil dengan kepribadiannya sendiri. Seperti Cina, Jepang, Thailand, Saudi Arabia, Inggris, Belanda, Spanyol & Perancis.
    Mereka tetap mempertahankan kebudayaannya, diforum internasional tetap tampil dengan busana nasionalnya, produk exportnya dikemas  dengan bahasa & huruf  nasionalnya, dll kepribadian yang melekat dalam kehidupan sehari hariannya.
2.      Menumbuh kembangkan kepribadiannya berarti menghargai peninggalan leluhur. Otomatis mendapat berkah dari leluhur. Leluhur yang telah ratusan hingga ribuan tahun wafat, sudah tentu dalam posisi dekat dengan Tuhan, maka mudah memohonkan kemuliaan bagi bangsanya yang tetap menjaga jatidiri & peninggalan hasil karyanya
3.      Kembali pada kepribadian bangsa adalah bagian dari cinta tanah air. Padahal cinta tanah air itu didalam agama Islam hukumnya wajib, oleh karena itu setiap bangsa yang senantiasa mempertahankan dan menumbuh kembangkan kepribadian sendiri akan mendapatkan rahmat, perlindungan, berkah, anugerah dan kemuliaan dari Allah SWT.

B.  URAIAN

1.      Potret bangsa masa kini.
            Rendahnya martabat bangsa karena telah kehilangan jatidiri. Pandangan hidup &   kehidupan sehari hari telah dipengaruhi asing. Dapat dikiaskan sebagai Mr Ali Babah.
            Mr sebagai simbol pengaruh Barat.
            Ali sebagai tanda budaya Arab.
            Babah sebagai bukti kebanjiran produk Cina.
            Jadi kehidupan sehari hari diwarnai kebarat baratan, kearab araban & kebabah babahan. Hilang sudah kepribadiannya sendiri.
            Demokrasi menggusur Gotong royong.  Seperti pilkada yang katanya langsung dipilih     rakyat, faktanya suara rakyat dibeli bahkan KPU bisa dibayar untuk merubah suara. Kalau gotong royong adalah kebersamaan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih & tanpa harapan dibayar, demi untuk kepentingan bersama. Jelas nilai demokrasi yang terjadi di bumi Pratiwi sangat rendah dibandingkan dengan nilai luhur yang ada pada makna gotong royong.
            Sebagian dari Syariat Islam menggusur Budaya bangsa. Seperti berjilbab hukumnya wajib dimanapun & kapanpun. Apakah ini berarti tarian Jawa yang pakaiannya tidak berjilbab mesti harus dihapus? Padahal sejarahnya perempuan diwajibkan menutup wajah untuk mencegah timbulnya nafsu sahwat setiap lelaki Arab yang kemampuan mengendalikan nafsunya masih sangat rendah , maklum diabad VII (jaman Jahiliyah) diawal berdirinya agama Islam, di Arab perempuan lebih banyak sebagai komoditas sex maka perlu disembunyikan wajahnya. Sedang kita melihat perempuan berkebaya pada umumnya tidak timbul birahi, mengapa harus berjilbab dengan alasan untuk menunjukkan sebagai wanita beriman? Alangkah murahnya nilai iman yang bisa didapat hanya dengan berjilbab, yang kemudian menggusur busana daerah sebagai bagian dari budaya bangsa!?
            Import hasil bumi, yang sebagian besar dari Cina, menggusur Lapangan kerja ratusan juta petani. Padahal kehidupan pertanian dengan segala ritual & cara bercocok tanam adalah bagian dari kekayaan budaya bangsa. Akibat dari kebijaksanaan pemerintah yang membuka lebar lebar kran import, yang nota bene menguntungkan pengusaha & birokrat, maka hasil bumi petani sendiri menjadi kalah bersaing & tidak laku. Masalahnya diera sekarang ini pemerintah kurang membantu petani dalam hal pengadaan prasarana (seperti jalan desa & irigasi), penyediaan sarana (seperti pupuk & alat pertanian) serta pemasaran (seperti angkutan & distribusi hasil tani). Sedang negara lain sangat membantu petaninya untuk ketiga hal penting tersebut diatas, sehingga hasilnya produksi melimpah, berkwalitas & murah.
            Sebagai pembanding, sejahat jahatnya penjajah Belanda, mereka datang ke Indonesia bawa Gulden untuk beli hasil bumi petani Indonesia, maka jadilah Indonesia sebagai pengexport hasil bumi terbesar didunia. Kehidupan petani tercukupi, terbukti selama 350 th hampir tidak ada gejolak yang dilakukan oleh petani.
            Sekarang sebaik baiknya pemerintah RI, mereka mengumpulkan Rupiah untuk beli hasil bumi petani Negara lain, maka jadilah Indonesia sebagai pengimport hasil bumi terbesar didunia. Habis sudah riwayat petani Indonesia, maka berbondong bondonglah puluhan juta petani kekota untuk menjadi pekerja apa saja. Yang tidak kebagian kerjaan, menjadi preman, pengamen, pengemis, pencuri & perampok. Kaum perempuan terpaksa menjadi TKW yang di negeri Arab tak ubahnya sebagai budak pemuas sahwat. Jadilah kita bangsa antek Barat, cekokan Cina & budak Arab.
            Semua ini kurang disadari oleh para pemimpin bangsa, bahkan menjadi kebanggaan.
            Yang dibanggakan kerjasama untuk mengatasi issue issue internasional, faktanya SDA dikuasai Negara Negara Barat.
            Yang dibanggakan TKW sebagai pahlawan devisa, faktanya sebagai budak Arab.
            Yang dibanggakan telah mencapai ketahanan pangan, faktanya dibanjiri hasil bumi & produk Cina.
            Menyedihkan sekali, kebanggaan yang palsu tersebut diatas, yang notabene kebohongan kepada publik itu, sebagai keberhasilan pemerintah.

2.      Kejayaan bangsa masa lalu.
Diabad ke 7, ketika dunia Arab masih mengalami zaman Jahiliyah dimana  perempuan                     hanya sebagai komoditas sex, di Jawa sudah berdiri kerajaan besar yang dipimpin seorang perempuan, yang bernama Kanjeng Ratu Shima (Sahana). Ini sebagai bukti bahwa nilai peradaban kita sudah jauh lebih tinggi dengan menjunjung seorang perempuan menjadi raja & panutan.
Diabad ke 9, ketika dunia barat belum mampu membangun monument raksasa, kita sudah membuat candi Borobudur sebagai keajaiban dunia & lagi pula dibangun oleh seorang perempuan bernama ratu Pramodhawardani. Sementara itu, sang suami yang bernama Prabu Rakai Pikatan membangun candi Prambanan sebagai candi Hindu yang terindah didunia.
Diabad ke 13, ketika Ku Bilai Khan, raja diraja yang menguasai sepertiga dunia, mengirim utusan ke kerajaan Kediri agar tunduk dibawah Mongol, Raja Kertanegara justru menantang perang dengan memotong sendiri hidung & telinga utusan tadi serta disuruhnya pulang. Pasukan Mongol yang kemudian datang diperdaya & dihancurkan oleh menantu Kertanegara yaitu R. Wijaya.
            Sejak dahulu kala disepanjang abad, ketika Cina belum mengexport apapun,      Mataram, Kahuripan, Sriwijaya, Kediri, Singosari & Majapahit telah mengexport hasil bumi & tambang kenegeri negeri Asia. Bahkan Perguruan Tinggi pertama didunia (abad VII), sebagai pengexport ilmu, ada di kerajaan Sriwijaya.
            Itulah kejayaan masa lalu yang ditandai dengan percaya diri, mandiri, berani, tegas (tidak selalu mengambang) & berpegang teguh pada kebudayaan serta segala warisan leluhur yang adiluhung.

       C.  ANALISA
   
1.  Budaya Jawa Kuno.
           Antropologi menemukan kerangka manusia kuno dilembah Bengawan Solo yang          berusia empat ratusan ribu th yl, dinamakan Homosapiens Soloensis, sebagai nenek moyang manusia Jawa dan juga nenek moyang Aborigin bangsa asli Australia.
         Nabi Adam, yang oleh kaum agama Semawi dianggap manusia pertama didunia, apabila ditelusuri hingga sekarang  menurunkan tiga ratusan generasi, berarti baru hidup sekitar 12000 th yl.
         Kesimpulannya adalah manusia Jawa jauh lebih tua dari pada nabi Adam. Karena itu wajar  bila memiliki peradaban yang lebih maju dari bangsa bangsa lain didunia. 
            Budaya itu dibangun oleh Agama. Maka sesungguhnya budaya Jawa juga dibangun oleh agama , yang pasti umurnya lebih tua dari pada agama Hindu yang dianggap sebagai agama tertua didunia. Hanya saja dahulu kala agama Jawa tidak tercatat dalam sejarah. Ternyata diluar suku Jawa, banyak sekali kepercayaan yang sudah mengakar menjadi budaya daerah, seperti yang ada di Jawa Barat, Kalimantan, Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Ketika Hindu masuk ke daerah daerah tsb, terjadilah perkawinan antara kepercayaan lokal dengan agama Hindu, yang kemudian menjadi Hindu Jawa, Hindu Sunda (Sunda Kawitan), Hindu Kalimantan (Kaharingan), Hindu Batak, Hindu Bugis (Toraja), dstnya yang pada gilirannya mengakar menjadi Budaya masing masing Daerah. Inilah asal mula ditetapkan sebagai Bhineka Tunggal Ika oleh Empu Tantular. 

2.   Penggusuran Budaya.
      Pengaruh Barat & Arab, yang menjadikan kebarat baratan dan kearab araban, adalah   penyebab utama tergerusnya budaya bangsa. Semua ajaran agama yang asli yang diajarkan oleh Nabinya pasti benar, tetapi  yang disebarkan oleh para pengikutnya,  telah terkontiminasi oleh kepentingan politik, ekonomi dan budaya yang dianut oleh ybs. Contoh agama Budha, yang ada di Selatan (Ceylon, Myamar dan Thailand) berfaham Budha Hinayana, yang ada di Utara (Tibet, Tiongkok dan Jepang) berfaham Budha Mahayana yang sudah banyak berubah dari aslinya. Agama Kristen, menjadi 2 golongan besar Katolik dan Protestan, kemudian terpecah pecah kembali menjadi puluhan sekte. Semua kejadian ini dapat dipandang sebagai keniscayaan, karena tersesuaikan dengan ruang dan waktu (tempat dan zaman) berdasarkan budaya masing masing bangsa. Demikian pula dengan Islam.
         Al Quran dibukukan dan dibakukan pada zaman Khalifah Usman, belasan tahun setelah  nabi wafat. Oleh Usman diinstruksikan kepada seluruh komponen bangsa untuk mengumpulkan ayat ayat agar disusun menjadi kitab. Terkumpullah 7 versi kitab. Oleh Usman ditetapkanlah salah satu versi yang disetujui oleh pemerintah (versi Usmani) sedang versi yang lain dibakar. Namun yang berlaku hingga sekarang ini adalah Al Quran yang disusun sekitar 150 thn kemudian yang tata bahasa dan susunannya berbeda dengan versi Usmani. Timbul pertanyaan :
a. Adanya 7 versi yang disusun setelah nabi wafat, pasti masing masing tidak     seluruhnya benar dan tidak lengkap.
b. Al’Quran yang terpilih, pasal demi pasal tidak tersusun berdasar waktu yang berurutan sehingga bila ada wahyu & peristiwa yang terlewat, tidak ketahuan.
c. Materi berdasar informasi dari ratusan sahabat nabi, sehingga bisa terjadi terkontiminasi oleh kepentingan pribadi dan golongan.
                     Contoh beberapa ayat yang kontroversial, a.l.:
1). Al Mu’minuun ayat 5 & 6 : Orang orang yang menjaga kehormatannya, kecuali        terhadap isteri isteri mereka atau budak budaknya, maka sesungguhnya mereka tiadalah tercela.
      An Nisaa ayat 24 : Diharamkan perempuan perempuan yang bersuami, kecuali  budak budak yang menjadi milikmu.
      Jelas ayat ini tidak sesuai dengan budaya Jawa dan merendahkan martabat wanita   Jawa. Tidak heran bila TKW digauli majikan Arab karena sudah dibeli layaknya budak.
2). Al’Araaf ayat 204 : Dan apabila dibacakan Al Quran maka dengarkanlah dan diamlah supaya kamu mendapat rahmat.
      Bukankah ketika nabi Muhammad menerima wahyu belum ada kitab Al Quran? Bukankah Al Quran itu ada belasan tahun setelah nabi wafat? Kalau orang Arab mendengar saja bisa mendapat rahmat, masuk akal karena faham bahasa Arab. Tapi kalau bangsa Indonesia, mustahil mendapat rahmat hanya dengan mendengar bila tidak faham artinya.
 3). Al Baqarah ayat 120 : Orang orang Yahudi & Nasrani tidak senang kepadamu   sampai engkau mengikuti agama mereka ……
      Betulkah Tuhan menyampaikan pengabaran ini? Pernyataan ini terlalu rendah sebagai wahyu Tuhan. Ini memberi kesan bahwa Tuhan hanya berpihak pada    umat Islam, sedang kenyataannya umat Nasrani jumlahnya hampir 2 X umat Islam. Kepribadian bangsa Indonesia, yang terbukti dalam sejarah, dapat menerima masuknya semua agama & dapat hidup rukun bersama dengan semua umat beragama, jelas tidak cocok dengan ayat diatas.
             Masih banyak sekali yang kontroversial dan tak sesuai dengan budaya  bangsa.
Sering terdengar didalam dakwah dan terbaca didalam buku buku Islam, pernyataan bahwa “agama yang benar adalah hanya Islam dan semua nabi sejak Adam beragama Islam. Oleh karena itu hanya umat Islam yang masuk surga, yang bukan Islam adalah kafir karena Tuhan mereka bukan Allah. Barang siapa yang tadinya Islam kemudian pindah agama lain, halal darahnya”. Suatu kebohongan & pembodohan umat yang luar biasa. Yang menyedihkan adalah hampir semua orang yang beragama Islam percaya akan pernyataan itu.
      Bila pernyataan itu benar betapa salahnya Tuhan menciptakan umat manusia ini.  Penduduk dunia sebanyak 7 M, yang beragama Islam 1,5 M berarti yang bukan Islam 5,5 M. Jadi Tuhan telah salah menciptakan 5,5 M (80%) umatNya yang dianggap kafir itu dan calon penghuni neraka? Apakah sia sia mereka yang beragama Hindu, Budha dan Kristen, karena akhirnya masuk neraka?
      Sesungguhnya wahyu Tuhan yang diterima nabi Muhammad pastilah benar, untuk ruang dan waktu itu. Jadi sangat berkaitan dengan kondisi masyarakat Arab waktu itu diabad 7 yang sedang dilanda zaman jahiliyah dimana perempuan hanyalah sebagai obyek sex.. Maka banyaklah ayat ayat yang sifatnya kondisional, seperti isteri boleh 4, mencuri potong tangan, zina dirajam sampai mati, berhaji naik onta, perempuan harus berjilbab, sebutan kafir untuk kaum Quraish yang melawan Islam, larangan pelihara anjing, dstnya. Tentu ada juga ayat yang sifatnya universal yang berlaku untuk segala zaman (tak dibatasi ruang & waktu), seperti iman, taqwa, akhlaqul karimah, ikhlas, sabar, qanaah, adil, amanah, puasa & qurban.
         Jadi dalam beragama (Hindu, Budha, Kristen & Islam) harus menggunakan hati nurani, menghindari pembodohan & berakal sehat, agar dapat membedakan ayat yang sesuai dengan ayat yang berlawanan dengan budaya bangsa yang adiluhung (mampu memisahkan yang benar dari yang salah). Inilah yang disebut orang yang mursid dan bijaksana.
         Pembodohan yang terus menerus semacam ini pada gilirannya betul betul menjadikan bangsa yang bodoh seperti telah terjadi sekarang ini. Betapa tidak, tanah air “gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwo tinandur”, faktanya pasar pasar dipenuhi hasil bumi import. Bangga dengan budaya sendiri yang adiluhung, faktanya praktek kehidupan sehari hari sudah dipengaruhi kebarat baratan dan kearab araban. Sangat menyedihkan ternyata sebagian besar orang Jawa pintar menulis huruf Arab tetapi tidak mengenal huruf Jawa peninggalan leluhur. Kepercayaan diri dan kemandirian telah sirna, terbukti SDA (sumber daya alam) tidak dikelola sendiri tetapi dijual & digadaikan kepada Asing. Lebih bodoh lagi kita percaya pada Pemerintah yang menyuarakan bahwa perekonomian maju, swasembada beras, export meningkat & kemiskinan menurun. Padahal ternyata kondisi dilapangan sebaliknya. Kalau kemiskinan menurun, ada benarnya, tetapi maksudnya menurun (diwariskan) ke anak cucu.

 3.   Gerakan bela budaya.  
       Jika China, Jepang, Thailand, Malaysia, Saudi Arabia, Belanda, Inggris dan Spanyol dapat maju dengan tampil dengan budayanya sendiri, mengapa kita tidak tampil dengan budaya sendiri agar juga menjadi bangsa yang maju. Ini pertanda bahwa kita sudah terlalu bodoh sebagai bangsa, sehingga sadar tak sadar menyingkirkan budaya sendiri.
       Lambang kita Bhineka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia memang terdiri dari berbagai suku. Jadi masing masing suku harus menampilkan budayanya. Jangan terjadi “wong Jawa ilang Jawane, jelema Sunda paeh Sundana”. Seharusnya yang Melayu tetap bersemboyan “Melayu Boleh” (seperti Malaysia), yang Batak harus Batak banget, yang Bugis harus asli berbudaya Bugis, dstnya kemudian bersatu menjadi bangsa Indonesia. Diabad 14 pernah terjadi persatuan Nusantara dan sekitarnya. Majapahit (dizaman Hayam Wuruk – Gajah Mada) sebagai kerajaan Pusat; sedang Pasundan, Sriwijaya, Pagaruyung, Deli, Aceh, Goa, Lambung Mangkurat, Ternate, dstnya sebagai kerajaan Daerah yang berdaulat dan tetap menampilkan budaya masing masing. Inilah yang kemudian dicontoh oleh Malaysia dengan bentuk Kesultanan dipusatnya dan propinsi propinsi sebagai Negara bagian kesultanan. Termasuk Saudi Arabia yang berbentuk kerajaan, bukan Kalifatullahan menurut Syariat Islam. Mengapa  kita harus membentuk Negara berdasar Syariat Islam, sedang kerajaan Saudi Arabia sebagai bentuk Negara tak mengikuti Syariat Islam?
Gerakan Bela Budaya ini harus serentak dilakukan oleh masing masing daerah. Jadi mutlak perlu segera dibentuk Gerakan Bela Budaya Jawa, Gerakan Bela Budaya Sunda, Gerakan Bela Budaya Melayu, Gerakan Bela Budaya Bugis, Gerakan Bela Budaya Papua, dstnya semua suku. Inilah perwujudan Bhineka Tunggal Ika! Jangan malah takut dengan penonjolan kedaerahan masing masing, yang kemudian malah kebarat baratan & kearab araban.
Selain serentak ditingkat daerah, yang lebih penting lagi harus serentak ditingkat Pemerintah, apalagi tak bisa dipungkiri bahwa perilaku Pemerintah Pusat otomatis menjadi panutan Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat. 
             Celakanya Pemerintah yang sekarang ini, memposisikan Kebudayaan sejajar dengan  Pariwisata menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Makanya Kebudayaan dipilih pilih & dikemas sekedar untuk promosi Pariwisata. Jenis Kebudayaan yang ditampilkan adalah yang laku untuk dijual kepada wisatawan. Sikap Pusat yang demikian ini diikuti oleh Daerah, sehingga kegiatan budaya didaerah daerah selalu dalam rangka mendatangkan wisatawan. Ternyata budaya bangsa ini tak hanya digusur oleh asing, tapi bahkan mengalami pelecehan oleh Pemerintah sendiri.
              Langkah awal yang perlu ditempuh Gerakan Bela Budaya adalah menuntut Pemerintah untuk menyatukan kembali Kebudayaan dengan Pendidikan menjadi Kementerian Kebudayaan & Pendidikan.
         Langkah berikutnya adalah mutlak perlunya mempertahankan dan menumbuh kembangkan jati diri masing masing suku bangsa dalam beragama apapun. Jangan karena syariat agama yang kebetulan tidak sejalan dengan budaya sendiri, kemudian  budayanya yang dikalahkan. Budaya tetap harus dipertahankan, karena budaya adalah produk agama sebelumnya sebagai peninggalan leluhur yang tidak bisa ditinggalkan. Contoh ajaran Islam, berbakti pada orang tua adalah wajib hukumnya. Orang tua harus berbakti juga kepada orang tua pendahulunya, dstnya berantai keatas keatas hingga sampai pada leluhur. Jadi generasi sekarang ini harus berbakti pada leluhur dengan cara antara lain menumbuh kembangkan warisan budaya. Seperti Peringatan (Jawa: Kenduren atau Kondangan) untuk yang sudah meninggal dihari ke 7, ke 40, ke 100 dan ke 1000 adalah budaya Jawa peninggalan leluhur sebelum Hindu masuk ke Jawa (tidak ada syariat atau upacara agama Hindu seperti ini di Hindia). Ternyata masyarakat Islam Jawa dan Sunda tetap melakukan peringatan ini yang diisi dengan Yasinan dan Tahlilan.
         Contoh suku bangsa Bali, yang konsisten  menampilkan jatidirinya dari A sampai Z. Beragama Hindu Bali (yang syariatnya sudah berbeda dengan Hindu yang ada di Hindia), berbudaya Bali, beradat istiadat Bali, berbahasa Bali, dstnya meliputi kehidupan sehari hari yang khas Bali. Terbukti sangat menarik perhatian dunia.  Bahkan banyak orang asing yang tetap tinggal di Bali dan betul betul menjadi orang Bali. Faktapun menunjukkan propinsi Bali termasuk daerah dengan kehidupan budaya, social & ekonomi yang lebih maju dibanding dengan rata rata propinsi lain. Padahal Surakarta, Jogyakarta, Jawa Barat, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, dll daerah memiliki budaya dan peradaban sendiri yang perlu ditumbuh kembangkan. Tidak perlu kebarat baratan & kearab araban, meskipun dilanda globalisasi barat dan beragama Islam!


D.     KESIMPULAN.
      
1.     Mempertahankan dan menumbuh kembangkan Jatidiri Bangsa adalah mutlak perlu untuk mengantar bangsa Indonesia menjadi Negara Adidaya, sebagaimana Negara Negara maju yang selalu tampil dengan Jatidirinya.
2.     Jatidiri atau Kepribadian Bangsa meliputi Kebudayaan, Adat istiadat, Spiritualisme, Kepercayaan, Kemandirian, nilai nilai Luhur dan Kearifan lokal sebagai warisan leluhur.
3.     Faktanya potret bangsa sekarang ini telah kehilangan Jatidiri yang ditandai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang kebarat baratan (arus globalisasi), kearab araban (syariat agama) dan kebabah babahan (banjir produk cina).
4.     Tekad kembali pada Jatidiri Bangsa harus dicanangkan oleh pemerintah, diawali dengan gerakan bela budaya masing masing suku bangsa, sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
5.     Dalam pengamalan kehidupan beragama harus berakal sehat, disertai kemampuan untuk dapat memisahkan ajaran (syareat) yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.    

24 Januari 2011

Bina Jatidiri Pemuda


BINA  JATIDIRI  PEMUDA



I.            PENDAHULUAN

 

Butir-butir Pembinaan Generasi Muda terdiri dari :
1.      Kepercayaan kepada Tuhan YME
2.      Pendidikan lahir batin, yang meliputi :
a.       Pendidikan akal/intelektual
b.      Pendidikan rohani
c.       Pendidikan jasmani
3.      Pergaulan yang baik.
4.      Memupuk hobi yang baik.
5.      Cita-cita yang tinggi.

Butir-butir diatas adalah lima langkah pokok untuk mengimbangi pertumbuhan badan jasmani dan jiwa di masa kepemudaan agar selaras dalam mengembangkan kekuatan kekuatan lahir batin, sehingga berdayaguna baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.
Masa Pemuda adalah masa transisi dari kandungan keluarga untuk masuk ke kandungan masyarakat.
Masa pemuda ditandai oleh pertumbuhan emosi dan akal yang mempengaruhi badan jasmani dan jiwa yang kemudian bergejolak dalam bentuk gairah, keinginan, kemauan, harapan, kreativitas, petualangan dan penjelajahan.
Masalahnya di masa itu pemuda belum cukup berpengalaman dan belum menemukan jati dirinya, sehingga kemampuannya dalam memecahkan persoalan belum optimal. Oleh karena itu diperlukan 5 langkah pokok tersebut di atas agar secara pro-aktif terbiasa menjemput bola permainan hidup; sehingga segala potensi yang ada pada dirinya yang berupa gairah, keinginan, kemauan, harapan dan petualangan tersebut tersalurkan secara produktif yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya, yang pada saatnya nanti ikut membangun masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, bahagia lahir dan batin..

II.         URAIAN

 

1.      Kepercayaan Kepada Tuhan YME

Kepercayaan kepada Tuhan YME apabila dijabarkan berupa kemampuan mengamalkan  keyakinannya terhadap Tuhan YME dalam kehidupan sehari-hari.
Pada dasarnya ada 3 keyakinan pokok, yaitu :
1. Bahwa tiada yang lain yang disembah selain Tuhan YME.
2. Bahwa semesta alam dan seisinya diciptakan oleh Tuhan YME.
3. Bahwa hanya Tuhan YME yang menguasai semesta alam dan seisinya.
Sebagai konsekwensi logis dari pada keyakinan tersebut adalah sadar & percaya bahwa hanya ada satu Tuhan untuk berbagai agama dan berbagai bangsa dengan total umat 6,5 milyard ini. Memahami bahwa perbedaan hanya pada bahasa & pemberian nama untuk Tuhan, seperti Allah, Alloh, Deo, Yehuwa, God, Gusti, Pangeran, Hyang Widhi, Hyang Manon, Brahm, Purusha, dst. Selama masing masing yang memberi nama, maksudnya adalah 3 keyakinan pokok tsb diatas, maka betul yang dimaksud adalah Tuhan YME, iyalah Tuhan yang satu untuk berbagai agama & untuk semua umat manusia. Inilah yang dimaksud bung Karno ketika menyampaikan sila I dari Pancasila, KeTuhanan YME. Jadi apabila ada salah satu umat agama tertentu yang mengatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sesuai dengan sebutannya, justru itu tuhannya salah, karena berarti tuhannya tidak mencakup umat beragama lain, bahkan berarti umat agama tertentu tsb mengadakan tuhan tuhan yang lain untuk agama lain.      
Pengertian disembah sangat luas, termasuk dipuja, dijunjung, dihormati, ditakuti, dan dipercayai. Semuanya tertuju pada Tuhan YME semata, karena hanya Dialah yang berkuasa penuh, yang menciptakan, memiliki dan menguasai kehidupan. Jadi janganlah berpaling barang sejenakpun dari Tuhan YME, karena terbawa oleh segala macam daya tarik dunia. Sungguh luar biasa apabila ada pemuda yang telah memiliki kesadaran untuk fokus hanya kepada Tuhan YME semata sehingga tidak ada yang disanjung, ditakuti dan dipercayai selain dari padaNya.
Maka dari itu, sesungguhnya keyakinan tadi apabila telah tertancap kuat di dalam lubuk hati disertai pemahaman seperti tersebut di atas, akan menjadi tali yang kokoh yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya; sehingga tali tersebut menjadi aliran daya kekuatan, kepandaian, ketrampilan, ketangkasan, kebijaksanaan, kemuliaan dan kasih sayang dari Tuhan kepada hambaNya.
Sebaliknya, pemuda yang tidak memiliki tali penghubung yang kokoh tadi, yaitu yang tidak memiliki kepercayaan yang bulat, tidak dapat menerima aliran daya apapun dari Tuhan, sehingga segala usaha sulit untuk berkembang.
Kepercayaan kepada Tuhan mempunyai refleksi yang luas, antara lain adalah dorongan untuk menempuh pendidikan lahir bathin.  

2.      Pendidikan

Konsekuensi logis daripada keberadaan akal, roh dan jasmani sebagai pembentuk struktur pribadi manusia, maka sudah selayaknya apabila diperlukan pendidikan akal, pendidikan rohani dan pendidikan jasmani. Dengan demikian diharapkan akal, ruh dan jasmani bersama-sama mengalami perkembangan yang serasi dan seimbang. Apabila salah satu saja terabaikan sementara itu lainnya berkembang, maka akan terjadi ketidak serasian dan ketidak seimbangan atau lebih tegasnya lagi ketimpangan dan kegoncangan.
Sebagaimana Olah Raga adalah aplikasi daripada pendidikan jasmani, demikian pula untuk :
     Pendidikan Akal dapat diistilahkan sebagai Olah Ratio
Pendidikan Ruhani dapat diistilahkan sebagai Olah Rasa.
Hal ini sesuai dengan yang sering dikatakan oleh para ahli bijak yaitu Pengolahan Cipta, Rasa dan Karsa atau di sini diistilahkan dengan Olah Ratio, Olah Rasa dan Olah Raga, disingkat dengan Tiga Olah Ra.

a.      Pendidikan Akal / Intelektual / Olah Ratio.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan dunia dipacu oleh perkembangan Iptek, sehingga siapa yang menguasai Iptek, dialah  yang berpengaruh pada dunia. Perkembangan Iptek diperoleh dari pendidikan akal / olah ratio.
Jadi mutlak perlu pemuda disadarkan betapa pentingnya pendidikan intelektual yang dia peroleh di sekolahan dan di perguruan tinggi. Oleh karena itu pemuda harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kenyataannya masih banyak pemuda yang kurang menyadari hal ini, sehingga belajar dengan terpaksa dan setengah-tengah. Jika demikian mana mungkin dapat menguasai Iptek yang pada gilirannya selalu tertinggal oleh dunia barat. Akhirnya kita hanya sebagai pihak pengguna produk-produk Iptek saja, tidak pernah mampu bersaing dalam menciptakan dan memproduksi barang-barang hasil Iptek. Para pemuda kecenderungannya asal lulus sekolah saja, sehingga mutu intelektualnya masih rendah. Sikap ini harus dirubah sehingga para pemuda benar-benar memegang amanat dalam menuntut ilmu dan sungguh-sungguh menjadi intelektual sejati yang mampu bersaing.

b.      Pendidikan rohani / Olah Rasa.
Pendidikan rohani di sini, lebih ditekankan pada pendidikan watak sebagai kelanjutan daripada kepercayaan kepada Tuhan YME.
Betapa pentingnya pendidikan rohani sebagai pondasinya pendidikan akal. Tidak dapat dibayangkan apabila seseorang memiliki kecerdasan akal yang tinggi, sementara itu pendidikan rohani terabaikan sehingga tidak memiliki watak yang baik, maka bisa jadi kepandaiannya tersebut dipakai untuk menghancurkan umat manusia, misal membuat bom nuklir dan senjata penghancur massal lainnya. Lain halnya apabila seorang ilmuwan yang memiliki budi pekerti yang luhur, maka sudah pasti kepandaiannya akan disalurkan untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemajuan umat manusia. Misal pengetahuan tentang Sinar Laser untuk mengobati berbagai penyakit yang sudah akut, satelit untuk memperlancar komunikasi & pemotretan jarak jauh, dan sebagainya.
Bahkan pendidikan rohani sangat menunjang kelancaran dalam menempuh pendidikan akal. Jelasnya demikian;  seseorang yang telah mengenal pendidikan rohani seperti budi pekerti yang baik dan telah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka sifatnya menjadi jujur, syukur, sabar, rela dan berbudi luhur, yang pada gilirannya suasana jiwanya menjadi tenang, tentram dan damai. Tidak dapat dipungkiri bahwa sifat dan suasana jiwa yang sedemikian sangat membantu dan memperlancar proses belajar. Dia akan senang mendengarkan, mau menerima pelajaran, mudah mengerti persoalan dan dengan sabar dan tulus memecahkan tugas-tugas akademis.
Sebaliknya, apabila orang tidak mengenal pendidikan rohani, maka sifatnya menjadi dengki, iri, pemarah, malas, mudah meledak-ledak, yang pada gilirannya jiwanya menjadi panas, kotor dan sakit. Dalam keadaan sedemikian sudah pasti sulit untuk menempuh pendidikan kecerdasan otak (intelektual). Betapa tidak, dia tidak senang mendengarkan, tidak mau menerima pelajaran, tidak mudah mengerti persoalan karena di kepalanya sudah penuh dengan persoalan-persoalan pribadi yang ruwet dan tidak terpecahkan.

c.       Pendidikan jasmani / Olah Raga.
Untuk pemeliharaan kesehatan dan pertumbuhan kekuatan, ternyata badan jasmani tidak hanya membutuhkan minuman dn makanan yang bergizi, tetapi juga membutuhkan gerakan secara teratur dan kontinyu, seperti senam, bela diri dan lain lain olah raga.
Gerakan badan atau olah raga sangat bermanfaat
a)      bagi jasmani, karena :
1)      Melancarkan peredaran darah.
2)      Membantu metabolisme.
3)      Menormalkan dan mengencangkan otot-otot.
4)      Merangsang aktivitas saraf.
5)      Mempercepat penggantian sel-sel yang telah mati.
6)      Membantu pertumbuhan badan.
7)      Membentuk struktur tubuh (body building).
8)      Meningkatkan daya tahan.
b)      bagi rohani, karena :
1)      Menanggulangi dan menghilangkan rasa malas.
2)      Mentaati peraturan permainan, sekaligus melatih kedisiplinan dan kejujuran.
3)      Melatih kesabaran dengan tekun latihan untuk mencapai prestasi.
4)      Menghindari perselisihan karena semua pihak harus patuh terhadap keputusan wasit.
5)      Mengendalikan emosi apabila kalah bermain.
6)      Latihan tetap rendah hati meskipun selalu memenangkan pertandingan.
7)      Ikhlas apabila harus melepaskan status kejuaraannya.

Seperti sering kita dengar bahwa olah ragawan memiliki jiwa sportif. Yang dimaksud jiwa sportif apabila diuraikan mencakup butir-butir 1) sampai dengan 7) tersebut di atas. Olahragawan selalu menjaga dirinya untuk tidak makan dan minum yang merusakkan badan; karena dia benar-benar menjaga kesehatannya. Oleh karena itu juga tidak suka begadang, tawuran, iseng, nongkrong-nongkrong, dan lain-lain perilaku yang tidak bermanfaat.
Pendidikan mempunyai refleksi yang luas, antara lain adalah dorongan untuk membentuk pergaulan yang baik.

3.      Pergaulan yang baik

Betapa pentingnya pergaulan yang baik karena sangat mempengaruhi pembentukan watak dan karakter yang juga baik. Watak dan karakter yang baik merupakan modal yang berharga untuk mencapai sukses di segala bidang kelak apabila pada saatnya terjun di tengah-tengah masyarakat.
Yang dimaksud pergaulan yang baik disini adalah dalam hal :
a.         Lingkungan yang baik
Ada pepatah “jangan dekat kerbau berlumpur”. Jadi apabila bergaul dengan preman, morphinis, pemabuk, pemalas, pendendam, dll pelaku karakter negatif, maka akan terkena imbas dan tertular sifat negatif. Ini bukan bermaksud membeda-bedakan kawan, tetapi masalahnya pemuda belum cukup kuat iman dan mental untuk menangkis pengaruh negatif tersebut. Oleh karena itu sebagai peran awal dalam kancah pergaulan yang baru saja diterjuni di tengah-tengah masyarakat, lebih baik jangan ambil resiko dengan lingkungan pergaulan yang kurang baik.  
b.        Cara yang baik
Tuhan memerintahkan untuk kasih sayang sesamanya tanpa membedakan suku, agama, ras, jenis, golongan, derajat dan status ; yang diwujudkan dengan saling membantu sesuai dengan kemampuan yang membantu dan sesuai dengan kebutuhan yang dibantu.
Andaikan dalam pergaulan menjumpai perbedaan pendapat yang disebabkan oleh adat, budaya, syareat agama dan kebiasaan yang berbeda, hendaknya dapat saling menghormati, bahkan menjadikan perbedaan tersebut secara nasional sebagai symbol Negara “ Bhineka Tunggal Ika “, secara universal sebagai bukti Tuhan memang Maha Besar, Maha Luas & Maha Pandai melalui umat ciptaanNya  yang beragam.
Tuhan memberikan contoh kehidupan binatang sebagai cara bergaul yang baik. Lebah-lebah menghinggapi bunga-bunga untuk mendapatkan madu kemudian secara bersama-sama dibawa dan dikumpulkan di dalam sarang. Ada lebah ratu, ada lebah jantan dan ada lebah pekerja, masing-masing mengetahui kewajibannya dan selalu menjalankan tugas dengan tepat.
 Semut-semut bekerja menggotong makanan bersama-sama. Mereka setiap saling bertemu selalu menyampaikan salam dan pesan yang baik serta tidak pernah terjadi pertikaian. Semangat yang ditunjukkan adalah kebersamaan, kerukunan dan kegotong royongan.
Pergaulan yang baik mempunyai refleksi yang luas, antara lain adalah dorongan untuk memupuk hobi yang baik.           

                                                                                                                                                             4.  Memupuk hobi yang baik
              Hoby dikatakan tidak baik apabila :
  
              a.  Merusak jasmani dan rohani
                   Contoh : begadangan dan ke kelab malam
              b.  Menggangu orang lain
Contoh : main musik di tengah malam di jalanan.
              c.   Merusak lingkungan hidup
Contoh : berburu binatang langka
              d.   Merusak nilai-nilai luhur seni dan budaya
Contoh : berdansa bebas dan bergaul bebas
              Sebaliknya hobby dikatakan baik apabila :
              a.   Menyehatkan jasmani dan rohani
Contoh : olah raga, fitness, senam pernapasan dan yoga
              b.   Meningkatkan ketrampilan
Contoh : memasak, menyulam, menjahit, dll kerajinan tangan
              c.   Memelihara dan memperbaiki lingkungan hidup
Contoh : gardening, bertanam apotik hidup, menyayangi & melestarikan binatang.
              d.   Meluhurkan seni, budaya dan iptek.
      Contoh : menari, melukis, menyanyi, elektronik, otomotif dan riset.

Betapa pentingnya orang memupuk hobby yang baik, karena dapat menjauhkan diri dari perilaku negatif seperti : suka iseng, nongkrong-nongkrong, bermalas-malas, ngelantur, melamun dan buang-buang waktu tidak menentu.
Memupuk hobby yang baik dapat mendidik diri untuk disiplin, tekun, tabah, rajin, konsisten, kreatif dan tidak mudah bosan. Bahkan hobby dapat memberikan penghasilan (menanam dan menjual anggrek), membuka lapangan kerja (membuat dan mengexport kerajinan tangan) dan menjadi olahragawan profesional.
Memupuk hobby secara baik mempunyai refleksi yang luas, antara lain membangkitkan cita cita yang luhur.
         
        5.  Cita-cita yang luhur

Pemuda harus bercita-cita luhur sebagai perwujudan dari pada :
              Kecintaan pada tanah air.
              Keinginan untuk berbakti pada nusa dan bangsa.
              Kepedulian pada penderitaan rakyat.

              Negara ini membutuhkan para pejuang untuk mengentaskan bangsa dari :
              Keterpurukan ke kemuliaan.
              Kegelapan ke pencerahan.
              Kebodohan ke kecerdasan.
              Kemiskinan ke kesejahteraan

Karya para leluhur pengukir sejarah dan cita cita para pahlawan mutlak perlu dilanjutkan. Oleh karena itu pemuda harus dikenalkan dengan sejarah kejayaan bangsa ( jaman Borobudur & Majapahit ) dan perjuangan para pahlawan, agar dapat mewarisi jiwa dan semangat mereka.
Apabila para pejuang yang lalu bercita-cita untuk merdeka dengan mengusir penjajah, maka para pemuda sekarang harus bercita-cita untuk mengisi kemerdekaan dengan mengusir ketidak jujuran, ketidak adilan dan ketidak benaran. Dimulai dengan menerapkan kejujuran, keadilan dan kebenaran pada diri sendiri, sudah pasti para pemuda kelak mampu mengentaskan  dan mengharumkan bangsa melalui bidang dan lapangan kerja masing-masing untuk mencapai prestasi yang optimal, sehingga :
Para ilmuwan dapat menemukan karya-karya fisika, kimia, elektronik, kedokteran,   dll iptek.
             Para olahragawan dapat menjadi juara dunia badminton, tenis, catur, pingpong, atletik,  renang, dll.
             Para pengrajin dapat berkreasi menciptakan produk kerajinan yang disenangi mancanegara.
             Para Sarjana Pertanian dapat membantu petani dalam meningkatkan kwalitas dan melipat gandakan hasil pertanian.
             Para ekonom dapat memasarkan produksi dalam negeri keseluruh pelosok dunia.
              Ini sebagian dari peluang berprestasi dan berusaha yang dapat menjadi pilihan yang         dicita citakan sejak awal bagi generasi muda untuk menjadi kesatria pengawal kejayaan bangsa dimasa mendatang.